Provinsi Aceh Urutan ke 12 Angka Stunting Tertinggi, Sementara 13 Kabupaten Kota di Zona Merah

Provinsi Aceh urutan ke 12 Angka Stunting tertinggi di Indonesia. Sementara hasil serve Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 13 Kabupaten Kota berada di Zona merah.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan
Kependudukan (Deputi III) Kemenko PMK, Agus Suprapto menegaskan, berdasar data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, sebanyak 13 Kabupaten Kota di Aceh kategori zona merah.

“Status merah disematkan untuk wilayah yang memiliki prevalensi stunting di atas kisaran 30 persen,” katanya, Rabu, (16/3/2022), saat Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN-PASTI)

Bahkan Gayo Lues, Kota Subulussalam dan Bener Meriah mempunya prevalensi di atas angka 40 persen. Gayo Lues dengan prevalensi 42,9 persen malah bercokol di urutan ke 7 untuk tingkat nasional

Sementara daerah lain yang memiliki angka stunting yang tinggi dan berstatus merah adalah Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Besar serta Aceh Tamiang.

“Pidie nyaris menyentuh dua kali angka prevalensi yang ditolerir Badan Kesehatan Dunia atau WHO yakni 39,3 persen,” ungkapnya.

Selain itu ada 10 kabupaten dan kota yang berstatus kuning dengan prevalensi 20 hingga 30 persen, diurut dari yang memiliki prevalensi tertinggi hingga terendah mencakup Aceh Singkil, Pidei Jaya, Aceh Barat, Kota Lhokseumawe, Aceh Selatan, Simeuleu, Kota Langsa, Bireuen, Kota Sabang serta Kota Banda Aceh. Bahkan, Aceh Singkil dengan prevalensi 29,6 persen serta Pidie Jaya dengan 29,4 persen nyaris berkategori merah.

“Tidak ada satu pun kabupaten atau kota di Aceh yang berstatus hijau dan biru yakni dengan hijau berpravelensi 10 sampai 20 persen dan biru untuk prevalensi di bawah 10 persen,” paparnya.

Hanya Kota Banda Aceh yang memiliki angka prevalensi terendah dari seluruh wilayah di Aceh dengan prevalensi 23,4 persen. Agar sesuai dengan target nasional penurunan angka stunting 14 persen, maka laju penurunan stunting per tahun haruslah di kisaran 3,4 persen.

“Dengan melihat kondisi aktual yang terjadi saat ini, Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussaalam ditagih komitmennya di tahun 2024 agar tidak ada kabupaten dan kota di wilayah yang berstatus merah,”.

Padahal stunting merupakan sebuah kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

“Stunting ditandai dengan pertumbuhan yang tidak optimal sesuai dengan usianya. Anak yang tergolong stunting biasanya pendek walau pendek belum tentu stunting serta gangguan kecerdasan,” terang Agus.

Namun, probematika stunting akan menyebabkan kesenjangan kesejahteraan yang semakin buruk bahkan stunting dapat menyebabkan kemiskinan antar generasi yang berkelanjutan.

“Selain itu stunting dapat menyebabkan meningkatnya resiko kerusakan otak dan menjadi pemicu penderitanya terkena penyakit metabolik seperti diabetes dan penyakit yang berkaitan dengan jantung di masa dewasa si anak,” ulasnya lagi.

Dengan ancaman Tambah Agus, kesehatan dan kecerdasan, maka generasi yang terkena stunting akan mengalami berbagai permasalahan dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin beragam kedepannya. Pungkasnya

Ke 12 Provinsi yang memiliki angka prevalensi dan angka absolut stunting tertinggi di Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Utara (Sultra), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar), Provinsi Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten dan Sumatera Utara.

(https://beritaaceh.co/)